BATIK MAWOLAY Warnai Hapsa PKB GMIM 2026, Ciptakan Momen Bersejarah di Manado

Manado, (KS) – Suasana khidmat dan penuh kebanggaan menyelimuti pelaksanaan Hari Persatuan Kaum Bapa GMIM (Hapsa) Persekutuan Kaum Bapak (PKB) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) tahun 2026 yang dipusatkan di Mission Centre Manado, Jumat (05/06/2026).

Di tengah kemeriahan ibadah agung, sebuah elemen budaya lokal tampil memukau dan menjadi sorotan utama: Batik Mawolay. Menjadi salah satu sponsor resmi, Batik Mawolay tidak hanya sekadar memberikan dukungan, tetapi juga turut mengukir sejarah dalam perhelatan akbar ini. Seluruh kepala daerah, Majelis Pekerja Sinode (BPMS) GMIM, Komisi PKB Sinode GMIM, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi, serta para tamu Very Very Important Person (VVIP) tampak gagah mengenakan selendang Mawolay.

Selendang istimewa ini memadukan warna oranye yang cerah dengan sentuhan merah dan putih, dihiasi motif khas Mawolay dan rumah/pondok. Motif ini bukan sekadar ornamen, melainkan sebuah narasi visual yang merefleksikan identitas dan sejarah berdirinya Desa Poopo di masa lampau.

Momen bersejarah semakin terasa ketika Bupati Franky Donny Wongkar, SH secara resmi mengalungkan selendang Batik Mawolay kepada Ketua Sinode GMIM, Pdt. Adolf Wenas, M.Th. Tindakan ini menegaskan apresiasi mendalam terhadap karya anak bangsa yang turut memperkaya khazanah budaya daerah.

Dalam sambutannya, Ketua PKB Sinode GMIM, Ir. Morits Mantiri, MM, tak henti-hentinya melontarkan pujian atas berbagai karya inovatif yang diperkenalkan dalam acara tersebut. Beliau secara khusus menyoroti dua hal yang membanggakan: hasil riset inovatif bertajuk “Kreasi Anggur Perjamuan Kudus Berbasis Komoditi Unggulan Sulawesi Utara” karya Dr. Harley Mangindaan, SE, M.SM, dan tentu saja, Batik Mawolay.

“Batik Mawolay ini bukan sekadar kain bermotif. Desainnya mencerminkan hubungan erat antara manusia dan satwa endemik Sulawesi Utara, yaitu Wolay atau Yaki. Filosofi di baliknya sangat mendalam, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi kekayaan hayati yang menjadi ciri khas wilayah kita,” ujar Ir. Morits Mantiri, MM, disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Batik Mawolay merupakan upaya pengembangan seni budaya Mawolay yang telah mendapatkan pengakuan luar biasa. Pada tanggal 15 Desember 2025, di Jakarta, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan Batik Mawolay sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan ini menjadi bukti nyata kekayaan budaya Sulawesi Utara yang patut dibanggakan dan dilestarikan.

Keistimewaan Batik Mawolay semakin bertambah dengan fakta bahwa karya seni ini adalah hasil kreativitas anak bangsa dari GMIM, yaitu Bill Werung, SE. Beliau adalah pemegang Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas Batik Mawolay, sebuah pencapaian yang membuktikan potensi dan talenta luar biasa yang dimiliki oleh generasi muda GMIM.

Kehadiran Batik Mawolay dalam Hapsa PKB GMIM 2026 tidak hanya menjadi simbol dukungan sponsor, tetapi juga sebuah pernyataan kuat tentang komitmen untuk melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Indonesia, sekaligus mengapresiasi karya inovatif dari komunitasnya. Perpaduan antara nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal ini telah berhasil menciptakan momen yang tak terlupakan dan inspiratif bagi seluruh hadirin.

(PK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *